PENDIDIKAN AGAMA SEBAGAI SARANA MENUJU SUMBER DAYA MANUSIA YANG RELIGIUS
PENDIDIKAN AGAMA SEBAGAI SARANA MENUJU SUMBER DAYA MANUSIA YANG
RELIGIUS
LAILATUZ ZAHRO’
2021116180
Abstrak
Saat ini dirasakan ada keprihatinan yang sangat mendalam tentang
dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Kita mengenal, bahkan meyakini, adanya
sistem “Pendidikan Agama” dan “Pendidikan Umum”. Kedua sistem tersebut lebih
dikenal dengan “Pendidikan Tradisional” untuk pendidikan agama, dan “Pendidikan
Modern” untuk pendidikan umum. Seiring dengan itu berbagai istilah tak sedap
pun hadir ke permukaan. Bahkan dikotomi itu menghasilkan kesan bahwa
“pendidikan agama” berjalan tanpa dukungan iptek, dan “pendidikan umum” hadir
tanpa sentuhan agama. usaha untuk mencari paradigma baru pendidikan Islam tidak
akan pernah berhenti sesuai dengan tantangan zaman yang terus berubah dan
berkembang. Upaya mencari paradigma baru, selain harus mampu membuat konsep
yang mengandung nilai-nilai dasar dan strategis yang a-proaktif dan antisipatif,
mendahului perkembangan masalah yang akan hadir dimasa mendatang, juga harus
mampu mempertahankan nilai-nilai dasar yang benar dan diyakini untuk terus
dipelihara dan dikembangkan. Untuk itu pentingnya pendidikan agama melalui
lembaga pendidikan islam dan teknik pendidikan yang digunakan akan membantu dalam
pembentukan karakter, akhlak, moral manusia sebagai pedoman hidup sehingga
tercipta sumber daya manusia yang religius dalam mencapai tujuan Pendidikan
Agama.
Kata kunci :
Pendidikan Agama, Sarana, Sumber Daya Manusia.
PENDAHULUAN
Islam sebagai paradigma ilmu
pendidikan. Islam memiliki sifat universal dan kosmopolit dapat merambah ke
kehidupan apapun termasuk ranah pendidikan ketika islam dijadikan sebagai
paradigma ilmu pendidikan berpijak pada 3 alasan (1) ilmu pengetahuan sebagai
ilmu humoniora tergolong ilmu normatif terkait dengan norma-norma, (2) dalam
menganalisis masalah pendidikan para ahli cenderung mengambil teori dan
falsafah Pendidikan Barat, (3) islam sebagai paradigma, maka keberadaan ilmu
pendidikan memilih ruh yang dapat menggerakan kehidupan spiritual yang hakiki.
(Abdul Mujib, 2006: 1).
Apa hakikat islam sebagai paradigma
ilmu pendidikan? Makna islam sebagai paradigma ilmu pendidikan ialah suatu
konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas ilmu pendidikan
sebagaimana islam memahaminya. Sedang prinsip yang dipijak prinsip hakiki yaitu
prinsip at-tawhid, prinsip kesatuan makna. Filosofis pendidikan islam Abdul al
Rahma Salih Abdullah dalam Education Theory a Qur’anic outlock tentang rumusan
sistem pendidikan islam dapat dilakukan melalui 2 corak, (1) corak yang
menghendaki adanya keterbukaan pandangan hidup dan kehidupan non muslim. (2)
corak yang menyangkut pesan besar illahi ke dalam kerangka pendidikan islam.
Konten pendidikan ini berasal dari Al-Qur’an dan Hadist. (Abdul Mujib, 2006:
3).
Paradigma baru pendidikan islam yang
dimaksud adalah pemikiran yang terus-menerus harus dikembangkan melalui
pendidikan untuk merebut kembali kepemimpinan iptek, sebagaimana zaman keemasan
dulu. Pencarian paradigma baru dalam pendidikan islam dimulai dari konsep
manusia menurut islam, pandangan islam menurut iptek, dan setelah itu baru
dirumuskan konsep atau sistem Pendidikan Islam secara utuh. (Mastuhu, 1999:
15).
Paradigma baru pendidikan islam yang ingin dikembangkan adalah:
tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama;ilmu tidak bebas nilai tetapi bebas
dinilai; mengajarkan agama dengan bahasa ilmu pengetahuan dan tidak hanya
mengajarkan sisi tradisional, melainkan juga sisi rasional. (Mastuhu, 1999:
15).
PENDIDIKAN AGAMA
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar aktif untuk
memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, dan kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, orang
lain, masyarakat, bangsa, dan negara. Didalam pendidikan akan ada sumber daya
manusia yang tercipta tergantung pada bidang pendidikan apa yang kita pelajari
sehingga sangat penting pendidikan untuk
menunjang keberhasilan dan kesuksesan seseorang. (Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, 2012:
15).
Untuk itu, peningkatan sumber daya manusia yang religius harus
dilakukan melalui berbagai program pendidikan maupun lembaga pendidikan yang
dilaksanakan secara terarah serta pengetahuan akan ilmu pengetahuan yang
dilandasi dengan iman dan takwa untuk membantu tercapainya sumber daya manusia
yang religius.
Peningkatan IMTAK sebagai syarat
untuk mencerdaskan kehidupam bangsa akan lebih efektif, apabila dilakukan
melalui sistem pendidikan agama, maupun melalui proses pembelajaran bidang
studi yang sebagai salah satu sub sistem pendidikan nasional. Hal ini
disebabkan 2 aspek yaitu (1) pendidikan agama memiliki transmisi spiritual
lebih nyata dalam proses pembelajarannya; (2) kejelasannya terletak pada
keinginan untuk mengembangkan keseluruhan aspek dalam diri, baik aspek
intelektual, imajinasi, dan keilmiahannya, kultural, serta kepribadian. (Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, 2012: 17).
Maka, pendidikan islam adalah segala upaya atau proses pendidikan
yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia, baik individu maupun
sosial untuk mengarahkan potensi, baik potensi dasar (fitrah), maupun ajar yang
sesuai dengan fitrahnya melalui proses intelektual dan spiritual dengan
landasan nilai islam untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
(Abdul Mujib, 2006: 44)
Pendidikan agama di sekolah umum hendaknya mampu mengajarkan akidah anak didik sebagai
landasan keberagamaannya. Agama di sekolah umum menjaga keimanan dan ketakwaan.
Pendekatan yang dilakukan juga tidak banyak menekankan pada kajian kritis.
Selain itu anak-anak diajarkan dalam pengetahuan tentang ajaran agamanya. Contohnya
tentang shalat, menjalankan shalat, dan mangajarkan untuk shalat wajib di
mushalla, atau masjid. Namun anak-anak juga dianjurkan untuk menjalankan ibadah
sunnah, seperti shalat dhuha, Tadarrus Al-Qur’an, zakat, puasa, dan lainnya
yang berfungsi memperkuat pribadi untuk meningkatkan keimanan terhadap ajaran
agama. (Abdul Mujib, 2006: 45)
DASAR PENDIDIKAN ISLAM
Dasar pendidikan islam merupakan landasan operasional yang
dijadikan untuk merealisasikan dasar ideal atau sumber pendidikan islam. Dengan
agama pendidikan ini sebagai pedoman kehidupan dalam menjalankan segala
aktivitas kependidikan yang bermakna dan bernuansa keislaman. Dasar pendidikan
Islam yaitu :
1.
Dasar
Historis, adalah dasar yang beorientasi pada pengalaman pendidikan. Dasar ini
digunakan sebagai acuan memprediksi masa depan, identitas dan potensi sumber daya
manusia.
2. Dasar
Sosiologis, adalah dasar menjadi tolok ukur dalam prestasi belajar.
3.
Dasar
Ekonomi, adalah dasar yang memberikan perspektif tentang potensi-potensi
finansial, menggali dan mengatur sumber-sumber.
4.
Dasar
Politik dan Administratif, adalah dasar yang digunakan sebagai tempat untuk
mencapai tujuan yang dicita-citakan dan direncanakan.
5.
Dasar
Psikologi, adalah dasar yang memberikan informasi tentang bakat, minat, watak,
karakter, motivasi dan inovasi, serta sumber daya manusia yang lain.
Dasar Filosofis, adalah dasar yang memberi kemampuan memilih yang
terbaik. Bagi masyarakat sekuler, dasar ini menjadi acuan terpenting dalam
pendidikan. Sementara bagi masyarakat religius, seperti masyarakat muslim,
dasar ini sekadar menjadi bagian dari cara berpikir di bidang pendidikan secara
sistemik, radikal, dan universal. Dasar Religius, adalah dasar yang diturunkan
dari ajaran agama. dasar ini menjadi penting dalam pendidikan islam karena
semua pendidikan menjadi bermakna. (Abdul Mujib, 2006: 47)
Dari berbagai Dasar pendidikan Islam tersebut yang merupakan
landasan atau dasar berpijak yang akan dijadikan sebagai patokan dalam
menjalankan segala sesuatu yang berhubungan dengan keagamaan yang nantinya akan
membantu proes awal perkembangan individu dalam berbagai hal terutama dalam hal
keagamaan.
SARANA PENDIDIKAN ISLAM
Sarana pendidikan islam adalah segala sesuatu yang dapat menunjang
terjadinya proses pendidikan. Baik pendidikan moral, karakter, kepribadian dan
sumber daya manusia yang islami. Sarana pendidikan islam sebagai wadah dalam
meningkatkan pemberdayaan sumber daya manusia yang religius. Sarana ini
meliputi sarana fisik pendidikan maupun sarana non fisik pendidikan. (1) Sarana
fisik pendidikan yaitu lembaga pendidikan atau badan pendidikan.
Yang pertama, Lembaga pendidikan atau badan pendidikan adalah
organisasi atau kelompok manusia yang memikul tanggung jawab atas terjadinya
proses pendidikan. Lembaga pendidikan ini mengembangkan pendidikannya sesuai
dengan tujuan dan target yang ingin dicapai. “Pendidikan dalam islam lebih
banyak berupa pendidikan swasta sehingga perkembangannya cukup cepat, ketika
didukung dengan pendanaan dan support masyarakat” (Arief, 2002: 79).
Yang kedua, Alat
pendidikan adalah alat yang digunakan untuk memudahkan pemahaman didalam
pembelajaran. Sutari Imam Barnadib seperti dikutip Ramayulis (2006:2013)
mengemukakan bahwa “alat pendidikan ialah tindakan, perbuatan, situasi, atau
benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan”.
Selain alat atau
media yang berupa benda, perlu pula dikembangkan dalam pendidikan islam atau
media yang bukan merupakan benda. Sebab, pada umumnya alat atau media yang
bukan berupa benda lebih banyak bertujuan untuk pembentukan kepribadian yang
baik. Dalam konteks ini, pendidikan islam sangat berperan untuk tugas yang
dimaksud. Pendekatan inilah yang membedakan pendidikan islam dengan pendidikan
lainnya. Pendidik islam dalam hal ini bisa memiliki pengetahuan agama,
ketrampilan dalam beragama, dan sikap keagamaan secara terpadu dan seimbang.
(Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, 2012: 189).
(2) Sarana non
fisik pendidikan adalah alat yang tidak berupa bangunan, tetapi berupa materi
atau pokok-pokok pikiran yang membantu kelancaran proses pendidikan. Sarana ini
dibagi menjadi tujuh, yang terdiri dari landasan dasar, kurikulum, metode,
evaluasi, manajemen, mutu pelajaran, dan keuangan. Dengan adanya sarana fisik
pendidikan dan sarana non fisik pendidikan proses pendidikan dapat berjalan dan
sesuai dengan tujuan pendidikan untuk memajukan sumber daya manusia. (Haitami
Salim dan Syamsul Kurniawan, 2012: 195).
SUMBER DAYA MANUSIA
Pendidikan sebagai pengembangan potensi
Manusia mempunyai
sejumlah potensi atau kemampuan, sedangkan pendidikan merupakan proses untuk
menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi tersebut, dalam arti berusaha
untuk menampakkan (aktualisasi) potensi-potensi laten tersebut yang dimiliki
oleh setiap anak. Dalam bahasa islam, potensi laten tersebut disebut sebagai
“fitrah”. (A Qodri A. Azizy, 2003: 40).
Meskipun pada
dasarnya fitrah manusia beriman, ia mempunyai dua potensi diri/jiwa; fujur
(kejelekan) dan taqwa (kebaikan) (al-Syams [91]: 8). Dua potensi ini pada
dasarnya merupakan konsekuensi ajaran khiyar (pilihan). Manusia diberi kebebasan untuk memilih baik
atau buruk dan Allah akan menyediakan hasil (balasan) dari perbuatannya itu,
sebagai konsekuensi pilihannya. Dengan dua potensi dan konsekuensi dari
perbuatan manusia itu, islam mengajarkan konsep tanggung jawab. (A. Qodri A.
Azizy, 2003: 40).
Menurut Abdurrahman Al-Bani, tugas
pendidikan islam adalah menjaga dan memelihara fitrah, mengembangkan dan
mempersiapkan segala potensi yang dimiliki, dan mengarahkan fitrah dan potensi
tersebut secara bertahap. Pengembangan berbagai potensi manusia (fitrah) dapat
dilakukan dengan kegiatan belajar, yaitu melalui instuisi-instuisi. Belajar
yang dimaksud tidak harus melalui pendidikan di sekolah saja, tetapi juga dapat
dilakukan di luar sekolah, baik dalam keluarga maupun masyarakat, dan atau
lewat instuisi sosial yang ada. (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993: 138).
Keluarga sebagai lembaga pendidikan islam
Untuk menciptakan sumber daya
manusia yang religius ruang lingkup utama dimulai dari lingkup keluarga.
Sebagai orang tua sekarang harus jeli dalam memilih sekolah untuk putra
putrinya diharapkan memilih sekolah yang menyeimbangi antara pendidikan umum
maupun pendidikan agama agar anaknya bisa menjadi anak yang pandai baik secara
moral maupun agama. (Suyanto, 2006: 226).
Pendidikan keluarga merupakan
pendidikan yang pertama dan utama. Pendidikan keluarga mencetak anak agar
mempunyai kepribadian yang kemudian dialihkan ke lembaga-lembaga berikutnya.
Seperti masjid, pondok pesantren, dan sekolah motivasi pengabdian keluarga
(ayah-ibu) dalam mendidik anak semata-mata demi cinta kasih. Inilah proses
pendidikan berlangsung dengan baik seumur anak dalam tanggungan utama
keluargakewajiban orang tua dalam mendidik anak anaknya berjalan dengan
sendirinya sebagai adat atau tradisi jadi tidak bergantung dari latar belakang
pendidikan orang tuanya semua orang tua bisa melakukannya. (Suyanto,2006: 226).
Kewajiban mendidik anak merupakan
naluri paedagogis bagi setiap individu yang menginginkan anaknya lebih baik
daripada keadaan dirinya. Teknik yang paling tepat dalam proses pendidikan
adalah dengan teknik imitasi (al-qudwah) yaitu proses pembinaan anak secara
tidak langsung istiqomah melakukan ibadah baik di rumah, di masjid, atau ditempat
lainnya dan mengajak anak-anaknya untuk mengikuti dan meniru hal-hal yang
dilakukan orang tuanya. Mengajak anak ke masjid untuk memperoleh pengetahuan
melalui ceramah serta memperoleh pendidikan moral, sikap mental, dan
ketrampilan dalam sholat berjamaah. (Suyanto, 2006: 226).
Secara umum kewajiban orang tua pada
anak-anaknya adalah mendoakan anak-anaknya dengan do’a yang baik (QS. Al-Furqon
74). Dasar pendidikan yang diberikan kepada anak didik dari orang tuanya (1)
Pendidikan Budi Pekerti, (2) Dasar Pendidikan Sosial, (3) Dasar Pendidikan
Intelek, (4) Dasar Pembentukan Kebiasaan dan Pembinaan Kepribadian yang baik
dan wajar, (5) Dasar Pendidikan Kewarganegaraan, (6) Dasar Pendidikan Agama.
Melatih dan membiasakan Ibadah Kepada Allah S.W.T sembari meningkatkan aspek
keimanan dan ketakwaan anaknya kepada-Nya. (Suyanto, 2006: 227).
Kecenderungan fenomena saat ini
minoritas akan moral mengakibatkan pergaulan bebas, narkoba, dan terjerumus
dalam tindakan yang kriminal, serta sifat sifat negatif yang dipicu karena
latar belakang keluarga, minimnya pendidikan agama, faktor lingkungan, dan
pergaulan. Untuk menghindari perbuatan negatif yang timbul karena minimnya
pengetahuan agama, dalam hal ini faktor keluarga sebagai penentu dan agama
sebagai pondasi. Sehingga perbuatan
tersebut bisa terhindar dari diri pribadi seseorang dan menjadi pribadi yang
baik dalam moral, agama dan kepribadian. (Suyanto, 2006: 227).
Masjid sebagai lembaga pendidikan islam
Secara harfiah, masjid adalah
“tempat untuk bersujud”. Namun dalam arti terminologi, masjid diartikan sebagai
tempat khusus untuk melakukan aktifitas ibadah dalam arti yang luas. Pendidikan
islam tingkat pemula lebih baik dilakukan di masjid sebagai lembaga
pengembangan pendidikan keluarga. Implementasi masjid sebagai lembaga
pendidikan islam adalah (1) mendidik
anak untuk tetap beribadah kepada Allah S.W.T, (2) menanamkan rasa cinta kepada
ilmu pengetahuan dan menanamkan solidaritas sosial, serta menyadarkan hak-hak
dan kewajiban-kewajibannya sebagai insan pribadi, sosial dan warga negara, (3)
memberikan rasa ketentraman, kekuatan, dan kemakmuran potensi-potensi rohani
manusia melalui pendidikan kesabaran, perenungan, optimisme, dan mengadakan
penelitian. (Suyanto, 2006: 228).
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan islam
Pondok pesantren adalah suatu
lembaga pendidikan islam yang didalamnya terdapat seorang kiai (pendidik) yang
mengajar dan mendidik para santri (peserta didik dengan sarana masjid yang
digunakan untuk menydelenggarakan pendidikan tersebut, serta di dukung adanya
pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri. Tujuan terbentuknya
pondok pesantren adalah: (1) membimbing anak didik untuk menjadi manusia
berkepribadian islam yang dengan ilmu agamanya sanggup menjadi mubalig islam
dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya. (2) tujuan khususnya adalah
mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang
diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta dalam mengamalkannya di masyarakat.
Sistem yang ditampilkan dalam pondok pesantren yaitu (1) Memahami sitem
tradisional, kehidupan di pesantren menampilkan semangat demokrasi. (2) Para
santri tidak menyidap penyakit simbolis karena pesantren tidak mengeluarkan
ijazah. (3) Pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan,
persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup. (4) Alumni pondok pesantren
tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan. (Suyanto, 2006: 230).
Madrasah sebagai lembaga pendidikan islam
Kehadiran madrasah
sebagai lembaga pendidikan islam mempunyai empat latar belakang, yaitu:
1.
Sebagai
manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan islam.
2.
Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren
ke arah suatu sistem pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya untuk
memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum.
3.
Adanya
sikap mental pada sementara golongan umat islam khususnya santri yang terpukau
pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka.
4.
Sebagai
upaya untuk menjembatani antara sistem pendidikan modern dari hasil akulturasi
tugas yang di emban lembaga madrasah.
Menurut Zaenudin Sardar dalam buku Ilmu
Pendidikan Islam setiap perencanaan harus mengacu pada masa depan.
1.
Perencanaan
masa depan sengaja diarahkan kepada nilai-nilai yang telah di uji
perencanaannya dan di orientasikan kepada tindakan.
2.
Perencanaan
masa depan dirancang untuk menuju jalur-jalur tindakan alternatif yang lebih
lazimnya. Untuk menjaga gagasan-gagasan yang baik tidak terabaikan.
3.
Perencanaan
tradisional cenderung bersifat khayal dan memandang hari esok semata.
4.
Perencanaan
ini terutama bergantung pada studi rasional mengenai perkembangan mendatang dan konsekuensi mereka, serta
memberikan perhatian yang lebih kecil pada analistik statistik.
5.
Perencanaan
harus dapat menentukan perubahan yang diinginkan dalam sistem muslim menuju
stabilitas dan menghindari perubahan yang tidak diinginkan.
Ismail Kaji Al-Faruqi berpendapat
bahwa madrasah merupakan sistem pendidikan yang menggabungkan antara sistem
pendidikan tradisional dan sistem pendidikan Barat. Dalam hal ini madrasah
mempunyai dua keuntungan, yaitu : (1) upaya menghilangkan kelemahan-kelemahan
tiap sistem,dan adanya adaptifikasi metodologi dan ide ideal Barat sekuler, (2)
adanya sumber pendidikan yang tidak hanya diperoleh dari dana wakaf tetapi juga
dari pemerintah setempat. (Suyanto, 2006: 249).
Keberhasilan lembaga madrasah
sebagai wahana pendidikan islam tidak disangsikan lagi para lulusan yang
dihasilkan tampaknya sudah dapat mengimbangi kebutuhan dan tuntutan masyarakat
dan zaman. Walaupun demikian, keberhasilan itu membawa efek samping antara lain
: kepribadian anak didik menjadi pecah (sekularis) kecenderungan pemikiran
Barat mendisintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum, menjadikan ijazah
dan ujian sebagai tujuan pendidikan madrasah terjebak dalam formalitas.
(Suyanto, 2006: 250).
TEKNIK-TEKNIK PENDIDIKAN
Teknik merupakan cara dalam
pendidikan sehingga apa yang dipelajari dapat mudah kita terima bahkan
diamalkan sehingga bermanfaat. Adapun teknik-teknik pendidikan antara
lain: pendidikan melalui teladan,
pendidikan melalui teguran, pendidikan melalui hukuman, pendidikan melalui
cerita-cerita, pendidikan melalui pembiasaan, dan pendidikan melalui
pengalaman-pengalaman kongkrit. (Muhammad Quthb, 1993: 325).
1.
Pendidikan
melalui teladan
Bila islam
menjadikan suri teladan abadi dari Allah adalah kepribadian Rasul-Nya, maka ia
menjadikan kepribadian beliau itu sebagai teladan bagi setiap generasi, terus
menerus menjadi suri teladan dan pada setiap peristiwa. Suri teladan adalah
teknik pendidikan yang paling baik , oleh karena itu mendasarkan pendidikan
diatas dasar demikian. Seorang anak harus memperoleh teladan dari keluarga dan
orang tuanya agar semenjak kecil sudah menerima norma-norma islam dan berjalan
berdasarkan konsepsi yang tinggi.
Manusia harus
memperoleh suri teladan dan dari dalam masyarakat untuk membina mereka dengan
sifat dan adat-istiadat yang dikehendaki islam, agar membina angkatan muda.
Islam tidak menjadikan pendidikan itu tergantung kepada keberhasilan dan
kegagalannya hanya pada prakarsa pribadi, tetapi menjadikan prakarsa itu
menjadi suatu metodologi yang menyeluruh yang dimulai dari pendekatan
persoalan. Maka islam adalah aturan-aturan yang paling menonjol dalam hal
patokan logis. Maka bila suatu masyarakat terbentuk, masyarakat akan menanamkan
norma-norma melalui suri teladan yang telah diterapkan dalam masyarakat melalui
keluarga dan orang tua yang berperan dalam pembentukan diri seseorang.
2.
Pendidikan
melalui nasehat
Di dalam jiwa
terdapat dorongan tuntuk terus-menerus memerlukan pengarahan atau pembinaan.
Ini memerlukan adanya nasehat. Nasehat yang lembut, halus, tetapi berbekas yang
dapat membuat seseorang tetap berakhlak mulia.
3.
Pendidikan
melalui hukuman
Hukuman
sebenarnya tidaklah mutlak diperlukan, setiap orang masing-masing berbeda. Ada
yang sudah cukup dengan teladan dan nasehat saja, tetapi ada juga yang tidak
karena manusia itu tidak sama seluruhnya.
4.
Pendidikan
melalui cerita
Islam
menyadari, sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita dan menyadari
pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu islam
mengekploitasikan cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan.
Al-Qur’an mempergunakan cerita dalam pendidikan untuk membuat bimbingan yang
dicakup oleh metodologi pendidikannya, yaitu pendidikan mental, pendidikan
akal, dan pendidikan jasmani
5.
Pendidikan
melalui kebiasaan
Islam
mempergunakan kebiasaan itu sebagai
salah satu teknik pendidikan. Lalu mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi
kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan dan melaksanakan kebiasaan tanpa
susah payah dan tanpa menemukan banyak
kesusahan. Sekaligus islam menciptakan agar tidak terjadi keotomatisan yang kaku dalam bertindak, dengan cara
terus-menerus mengingatkan tujuan yang ingin dicapai dengan kebiasaan dan
dengan menjalin hubungan yang hidup antara manusia dengan Allah. (Muhammad
Quthb, 1993: 326-363).
Keberhasilan pendidikan bisa
ditempuh melalui berbagai lembaga pendidikan Islam. Melalui lembaga lembaga
pendidikan yang didalamnya terdapat proses pendidikan agama dengan menerapkan
teknik-teknik yang ada dalam pendidikan termasuk dalam hal keagamaan maka akan
terbentuk atau terciptanya sumber daya manusia yang religius yang mempunyai
kemampuan maupun potensi yang akan membantu dalam kehidupannya sehingga
seseorang tersebut akan menjadi manusia yang mempunyai sumber daya yang
berkualitas baik dalam hal agama maupun yang lainnya.
Dengan
masuk di lembaga pendidikan Islam seseorang akan mengalami banyak perubahan
melalui proses pendidikan tersebut. Ketika seseorang berhasil dalam proses
pendidikannya maka ia akan berhasil pula dalam mengembangkan potensi yang ada
pada dirinya melalui lembaga pendidikan. Dengan begitu, keberhasilannya dalam
proses pendidikan agama merupakan sarana menuju sumber daya manusia yang
religius.
PENUTUP
Pendidikan agama sebagai tolak ukur untuk membentuk kepribadian
seseorang yang sangat membawa pengaruh besar untuk kehidupan di masa mendatang.
Pendidikan agama yang pertama di peroleh dari lingkungan keluarga, selanjutnya
melalui lembaga-lembaga pendidikan yang berkelanjutan yang berideologi islami.
Pada zaman ini perkembangan zaman semakin pesat dan masuknya peradaban budaya
Barat yang memicu krisis moral membuat kita miris. Pemberdayaan sumber daya
manusia dimulai dari setiap individu di lingkungan keluarga. Kemudian kita
perluas lagi dalam lingkup pergaulan dan masyarakat.
Dengan segala ulasan dan uraian diatas harapannya kedepan akan
terbentuk generasi-generasi yang berjiwa intelektual, berkarakter, dan
berkepribadian islami. Bisa memotivasi diri sendiri, lingkungan sekitar,
pergaulan, dan juga masyarakat luas. Sehingga dapat menghasilkan sumber daya
manusia yang bermanfaat dan sumber daya manusia yang berakhlakul karimah yang
bisa menghadapi segala tantangan hidup serta selalu memandang kehidupan selalu
dari sisi positif dan bisa menjadi generasi yang kreatif, inovatif, dan penuh inspiratif.
DAFTAR PUSTAKA
A. Azizy, A. Qodri . 2003. Pendidikan
[Agama] untuk Membangun Etika Sosial (
Mendidik Anak Sukses Masa Depan: Pandai dan Bermanfaat). Semarang: CV.
Aneka Ilmu.
Mastuhu. 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam.
Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Muhaimin dan Abdul Mujib. 1993. Pemikiran Pendidikan
Islam. Bandung: PT Trigenda Karya.
Mujib,Abdul.
2006. Ilmu pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Quthb,Muhammad.
1993. Sistem Pendidikan Islam. Bandung: PT Alma’arif.
Salim,Haitami dan Syamsul Kurniawan. 2012. Studi Ilmu Pendidikan Islam.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Suyanto.
2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Amiiin.. Semoga makin besar kesadaran kita.. Terimakasih banyak
BalasHapusArtikelnya sudah bagus.. Lanjutkan... Sangat bermanfaat artikelnya
BalasHapusartikel yang membangun. GOOD JOB
BalasHapuslanjutkan !!!!!
Good Luck
Bagus. Saran saja untuk judul agar lebih menjurus mungkin kepada akhlak atau karakter agar terlihat bahwa pendidikan agama itu berbuah mendidik generasi bangsa yang baik.
BalasHapusI like it
BalasHapusLanjutkan kak
Namun lebih baiknya agar judul dibuat lebih menarik lagi
Semoga bermanfaat.
BalasHapusIsinya sudah bagus namun judulnya kurang spesifik
BalasHapusMenarik kak, yg pasti nambah pengetahuan ttg manfaat pendidikan agama islam, sukses kak
BalasHapusArtikel sudah cukup bagus.. lanjutkan semangatt kaka
BalasHapusArtikel sudah cukup bagus.. lanjutkan semangatt kaka
BalasHapusTerimakasih untuk teman-teman atas kritik dan sarannya. semoga komentar dari teman-teman bisa menjadi motivasi dan masukan untuk saya dalam menulis artikel untuk lebih memperhatikan sistematika penulisan dan yang terkait seputar artikel. semoga komentar dari teman-teman bisa bermanfaat untuk saya. terimakasih..
BalasHapusArtikel yang menarik untuk dibaca. Terimaksih sangat bermanfaat.
BalasHapusArtikel yang menarik untuk dibaca. Terimaksih sangat bermanfaat.
BalasHapusartikel nya sudah bagus... urutannya sudah sesuai sistematika penulisan,. judul dengan isi juga sudah sesuai..
BalasHapusArtikelnya sudah bagus, isinya juga sudah sesuai, semoga bisa bermanfaat untuk yang lainnya.
BalasHapusArtikelnya sudah bagus, dan isinya sudah sesuai. semoga bermanfaat bagi pembaca yang lain
BalasHapusArtikel sedah bagus isi sudah sesuai, ditunggu karya karya selanjutnya.
BalasHapus