KISAH INSPIRATIF PENJUAL CILOK
Kisah Inspiratif Penjual Cilok
Kisah berawal saat kami sekeluarga baru pindah rumah
di tempat yang baru. Ketika kami sedang bersantai di kamar, kebetulan jendela
kamar kami menghadap ke jalan. Tiba-tiba kami mendengar suara “cilok.. cilok..
cilok do’i, rasanya makyus..”, sontak kita membuka jendela sambil menengok
kanan kiri mencari-cari sumber suara tadi. Tiba-tiba dari arah selatan lewat
seorang bapak yang mengendarai sepeda motor tuanya dengan membawa kotak
dagangannya sambil terus memutar rekaman dagangan yang berbunyi “cilok..
cilok.. cilok do’i, rasanya makyus..”. Adikku berlari dan memanggil bapak
penjual cilok, “pak beli ciloknya” kata adikku seraya berlari menghampiri bapak
penjual cilok tadi.
“Beli berapa nak?”, tanya bapak penjual cilok.
“Beli lima ribu pak”, jawab adikku dengan menyodorkan
selembar uang lima ribuan.
Setelah itu bapak penjual cilok pergi untuk menjajakan
dagangannya ke blok lainnya, itu ia lakukan setiap hari dari pagi hingga petang.
Hari berikutnya seperti biasa bapak penjual cilok berkeliling menjajakan
dagangannya, tetapi hari ini cuaca kurang bersahabat karena dari pagi hujan
turun hingga sore belum kunjung reda. Penjual cilok tetap berkeliling dengan
memakai jas hujan. Kadang aku melihat bapak penjual cilok itu lewat dan
berkeliling ke blok bawah, kemudian tak berapa lama bapak penjual cilok tadi
sudah kembali lagi dan menuju ke arah pintu gerbang keluar area Perumahan.
“Mungkin hari ini di blok bawah tidak ada orang yang
membeli cilok” gumamku dalam hati. Kadang
aku berfikir, sungguh kasihan para penjual jajanan keliling, mereka sudah
berkeliling kemana-mana dari satu tempat ke tempat lainnya berharap ada yang membeli
barang dagangannya. Mereka tidak perduli ketika cuaca panas atau hujan, mereka
tetap bersemangat untuk berjualan. Sungguh aku kagum pada mereka.
Keesokan harinya, saat bapak penjual cilok itu lewat
lagi, aku sengaja menunggu bapak penjual cilok itu lewat. Saat kami mendengar
suara “cilok.. cilok.. cilok do’i, rasanya makyus..” aku langsung berteriak dan
memanggil “pak, beli ciloknya”. Lalu bapak penjual cilok berhenti dan berbelok ke arah rumah kami.
“Beli ciloknya lima ribuan 3 ya pak..”, kataku.
Sembari menunggu bapak penjual cilok menyiapkan cilok
yang aku pesan, aku bertanya “bagaimana jualannya hari ini pak?”, tanyaku.
Kemudian bapak penjual cilok menjawab “alhamdulillah
nak, sedikit banyaknya rejeki yang kita dapat, kita harus tetap selalu
bersyukur”, jawab bapak penjual cilok sambil tersenyum menyeka tetesan air
hujan yang membasahi wajahnya. Setelah kami selesai membeli cilok, bapak
penjual cilok itu langsung pergi untuk menjajakan dagangannya ke tempat yang
lain.
Dari cerita ini, kita bisa mengambil hikmahnya, kita sebagai
generasi muda harus tekun, ulet dan semangat untuk terus belajar, bekerja keras
dan tidak mudah berputus asa dalam mengerjakan sesuatu. Apabila kita pernah
gagal, kita harus berani mencoba hingga mencapai keberhasilan, dan yang paling
penting adalah harus selalu bersyukur dan tidak lupa untuk selalu berdo’a.
Komentar
Posting Komentar