Power of Love
Selasa, 21 Juni 2022.
Power of Love
Akbar adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang property.
Laki-laki berusia 28 tahun ini menjadi idaman banyak wanita. Berbadan tinggi,
berkulit putih, tampan, mapan dan berkharisma, itulah yang bisa dideskripsikan
dari sosok Akbar. Banyak wanita bahkan rekan-rekan kerjanya yang mengidolakan
dirinya. Di kantornya dia terkenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana,
dermawan dan mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan. Berkat kerja
keras, usaha dan do’anya tanpa henti menjadikan perusahaan Akbar menjadi salah
satu perusahaan property terbesar dan maju di kotanya. Bahkan ditengah
kesibukan dan aktivitasnya sebagai pemimpin perusahaan tidak membuat dirinya meninggalkan
kewajibannya sebagai seorang muslim. Dia dikenal sebagai laki-laki yang agamis
dan selalu menjalankan ibadah-ibadah sunnah, hal ini dikarenakan dia adalah
lulusan pondok pesantren.
Namun dalam hal asmara, Akbar kurang beruntung. Karena sampai saat
ini Akbar belum juga menemukan seorang wanita yang kelak akan dia persunting
sebagai calon istrinya. Akbar termasuk laki-laki yang cuek dan tidak mudah jatuh
cinta.
Suatu hari Akbar akan mengadakan rapat kerjasama dengan perusahaan property
lain. Akan tetapi pemimpin perusahaan tersebut berhalangan hadir, sehingga
perusahaan mereka mengutus seseorang sebagai wakil perusahaan yang akan meng-handle
kerjasama itu. Wakil dari perusahaan itu adalah seorang wanita, dia bernama Anne.
Anne adalah wanita non muslim yang berparas cantik, smart dan mempunyai interpersonal
skill yang bagus. Akbar dan Anne sering bertemu untuk membahas perkembangan
proyek-proyek yang akan mereka tangani bersama. Kedekatan mereka berdua menjadikan
mereka lebih mengenal satu sama lain, walaupun mereka berbeda agama. Banyak yang bilang kalau mereka berdua itu seperti
sepasang kekasih sungguhan sehingga tidak jarang jika gosip tentang mereka
berdua sering bermunculan di kantor Akbar.
Menurut Akbar, Anne adalah wanita yang mampu membuat dirinya mau
untuk membuka pintu hatinya. Tetapi perasaannya pada Anne membuat dirinya bimbang
dan dilema karena Anne bukan seorang Muslimah. Akbar sangat berpegang teguh
pada ajaran agama Islam, dalam agamanya seorang muslim tidak diperbolehkan
menikah dengan wanita yang berbeda agama. Anne dan Akbar saling mencintai dan
mereka sudah saling mengetahui perasaan masing-masing. Setiap hari Akbar selalu
berdo’a supaya Allah membukakan jalan atas apa yang sedang dia alami sekarang,
Anne juga demikian.
Suatu hari tepat di jam makan siang, Akbar mengajak Anne untuk
makan siang bersama dan membahas kerjaan mereka di café. Di tengah keramaian café,
Akbar memulai obrolannya.
“Anne, ada yang ingin aku bicarakan”, ucap Akbar yang duduk
berhadapan dengan Anne.
“Iya, tentang apa mas?”, jawab Anne dengan lembut.
“Soal kita, kita kan sama-sama punya perasaan yang sama dan kita
juga udah ngerasa cocok satu sama lain, tapi…”, tiba-tiba akbar terdiam dan
tidak melanjutkan obrolannya.
“Tapi kita beda agama? itu maksud kamu mas?”, sambung Anne
melanjutkan obrolan mereka.
“Kalau aku berniat untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan
kamu dan menikah dengan kamu, apa kira-kira kamu bersedia masuk Islam?”, tanya
Akbar penuh harap.
“Sejujurnya aku bersedia untuk masuk Islam mas, aku juga mau perjuangin
hubungan kita sama-sama, tapi mas sendiri kan tahu gimana keluargaku?”, jawab
Anne seraya meyakinkan perasaannya dengan Akbar.
“Ya udah nanti kita pikirkan lagi jalan keluarnya ya, sekarang kita
lanjut makan dulu”, jawab Akbar sambil menyodorkan nasi ayam bakar madu kesukaan
mereka berdua.
Akbar dan Anne sepakat untuk mempertemukan kedua orang tua mereka
dan membahas kelanjutan hubungan mereka berdua. Orang tua Akbar dan Anne sudah
mengetahui kedekatan dan perasaan mereka masing-masing. Awalnya orang tua Akbar
tidak menyetujui niat baik anaknya untuk menjalin hubungan yang serius dengan
Anne, seorang wanita non muslim. Akan tetapi Akbar selalu berusaha untuk meyakinkan
kedua orang tuanya kalau Anne adalah wanita yang baik dan Anne juga bersedia
masuk Islam. Akhirnya perlahan hati orang tua Akbar mulai luluh dan mendukung
niat baik anaknya untuk meminang Anne sebagai istrinya.
Tiba saatnya orang tua Akbar dan Anne bertemu di restoran untuk
membahas hubungan anak-anaknya. Suasana hening
masih menyelimuti pertemuan kedua keluarga. Obrolan dibuka oleh Akbar.
“Siang om tante, sebelumnya saya ucapkan terimakasih karena om dan
tante bersedia datang dan bertemu dengan orang tua saya”, ucap Akbar membuka
obrolan.
“Iya sama-sama nak Akbar, kami juga mengucapkan terimakasih karena
sudah diundang untuk makan siang bersama”, jawab papah Anne dengan ramah.
“Begini om tante, saya dan Anne saling mencintai, untuk itu pada
kesempatan ini saya bermaksud ingin meminta restu om dan tante karena saya
ingin menikahi Anne”, itulah yang diucapkan seorang laki-laki bijaksana dan
penuh tanggung jawab ini.
“Tapi kan kalian berbeda agama, bagaimana kalian bisa menikah?”, sambung
mamah Anne.
“Iya tante, saya mengerti itu. Saya juga sudah membahasnya dengan
Anne dan Anne bersedia untuk masuk Islam”.
Mendengar perkataan Akbar, sontak kedua orang tua Anne terkejut
terutama mamah Anne. Mamah Anne adalah orang pertama yang tidak setuju dengan
kedekatan Anne dan Akbar. Kedua orang tua Anne belum mengetahui tentang keputusan
anaknya yang akan masuk Islam sebelum menikah dengan Akbar. Sejenak papah dan
mamah Anne menatap dan memperhatikan wajah kedua orang yang saling mencintai itu.
Saat itu orang tua Anne melihat betapa besarnya rasa cinta mereka berdua. Orang
tua Anne sangat mengerti jika anaknya benar-benar jatuh hati pada laki-laki
yang duduk tepat di depannya.
“Apa kamu benar-benar ingin masuk Islam dan menikah dengan Akbar
ne?”, tanya papah Anne seraya meyakinkan jawaban anaknya.
“Iya pah, Anne ingin masuk Islam dan menikah dengan mas Akbar, Anne
berharap mamah dan papah setuju”, jawab Anne sambil menggenggam tangan kedua
orang tuanya.
Mendengar jawaban Anne, kedua orang tua Akbar ikut tersenyum.
“Kami sebagai orang tua Akbar juga berharap bapak dan ibu merestui
hubungan mereka berdua”, jawab ayah Akbar.
“Iya pak saya sebagai orang tua Anne merestui hubungan mereka dan
kami juga menyetujui niat baik anak bapak dan ibu untuk meminang anak saya,
Anne. Saya berharap Akbar bisa menjadi suami yang baik untuk Anne”, jawab papah
Anne dengan bahagia.
Kedua orang tua mereka saling berjabat tangan menandakan jika
mereka akan segera menjadi keluarga. Sehari setelah pertemuan itu, Anne
melafalkan dua kalimat Syahadat sebagai bukti bahwa Anne sudah masuk Islam. Mereka
berdua terlihat bahagia mempersiapkan acara pernikahan yang akan mereka gelar
minggu depan. Mereka bersyukur dan berterimakasih karena Allah sudah
mempertemukan mereka berdua dan menyatukan mereka berdua dalam ikatan suci
pernikahan. Setelah melalui perjuangan panjang dan lika-liku perjalanan cinta
mereka, akhirnya tibalah hari bahagia Akbar dan Anne.
Komentar
Posting Komentar