Cerbung: Meraih Mimpi-Part 2
Jum'at, 22 Juli 2022.
Bapak Kepala Sekolah beserta Jajaran Guru berjalan untuk mengiring anak-anak sampai pintu gerbang sekolah. layaknya orang tua yang akan melepas anak-anaknya yang akan berlaga di medan perang. Dengan senyuman dan lambaian tangan tak lupa menyertai mereka. Di depan sekolah sudah disiapkan sebuah minibus untuk mengantar anak-anak ditemani beberapa orang guru sebagai penanggung jawab yang akan akan mendampingi anak-anak selama perlombaan.
Semua persiapan dicek kembali memastikan kalau tidak ada yang kurang.
“Oh ya Pak, untuk konsumsinya semua sudah siap.” Kata Pak Heru kepada Pak Simon.
“Bagaimana dengan anak-anak? Siap semua?” tanya pak Heru lagi.
“Jangan takut apalagi ragu-ragu , mantapkan hati dan berusahalah melakukan yang terbaik Bapak yakin kalian mampu. Masalah sekolah mendapatkan juara atau tidak itu adalah bonus.” Ucap Pak Heru memberikan semangat.
Hari itu sepuluh anak yang akan ikut lomba POPDA beserta empat guru pendamping sudah siap. Nanti siang Bapak dan Ibu Guru yang lainnya akan menyusul. Tak berapa lama minibus melaju membelah jalan raya yang semakin hari semakin macet dan udaranya membuat gerah. Semua kendaraan berebut untuk saling mendahului. Seakan tidak ada yang hendak mengalah. Sekarang ini budaya macet mulai menyusup sampai ke kota-kota kecil. Apalagi di setiap perempatan lampu merah orang seakan tak peduli dengan keselamatan. Sudah tahu lampu merah masih menyerobot untuk jalan. Kadang membuat kita bingung peraturan dibuat untuk apa? Hanya bisa geleng-geleng kepala.
Walaupun minibus berjalan tersendat-sendat karena terkena macet, akhirnya sampailah rombongan sekolah Gilang ke sasana GOR Kencana Bakti. Sesampainya di parkiran anak-anak turun. Ternyata disana ramai sekali. Terdengar suara hiruk pikuk siswa-siswi dari berbagai sekolah yang akan mengikuti kompetisi. Ada juga anak-anak yang datang untuk memberi dukungan kepada teman-temannya yang akan bertanding. Di tempat ini kita seperti sedang uji nyali, melatih seberapa besar keberanian kita dan juga mental kita.
Pak Simon memberikan arahan dan akhirnya rombongan berpencar untuk mengikuti lomba sesuai cabang olahraga yang mereka ikuti. Gilang dan Tama mengikuti lomba lari.
“Ayo Gilang, Tama kita siap-siap?”
“Baik Pak.” Jawab mereka berdua.
Saat mereka berjalan menuju area pertandingan, tiba-tiba terdengar panggilan dari panitia POPDA yang meminta semua peserta lomba lari segera berkumpul dan segera mempersiapkan diri karena sebentar lagi pertandingan akan dimulai. Tak berapa lama satu persatu peserta lomba lari sudah berkumpul. Selanjutnya panitia lomba memberikan arahan.
Peserta untuk cabang lomba lari ada dua puluh anak. Saat melihat lawannya Gilang sempat ragu. Betapa tidak, anak-anak dari SMP lain memiliki postur tubuh yang lebih tinggi, kuat dan terlihat hebat. Akan tetapi dia teringat pesan ayahnya, “jangan berkecil hati, berjuanglah, berusahalah untuk melakukan yang terbaik”. Benar juga kata Ayah, gumam Gilang.
Tanda perlombaan akan segera dibunyikan, 1, 2, 3 siap di tempat masing-masing. Semua berlari untuk mendahului lawan-lawannya. Satu persatu lawan tertinggal di belakang. Tama sudah terlihat kelelahan, tapi dia terus berlari. Sedangkan Gilang juga terus berlari sekencang-kencangnya. Ada dua anak yang larinya beriringan dengan Gilang. Gilang mengatur strategi pada saat hampir mendekati garis finish, sekitar sepuluh langkah lagi. Gilang memanfaatkan kesempatan itu. Dia berlari dengan sekuat tenaga seperti anak panah yang melesat, meluncur begitu cepat. Dua peserta yang berada di belakang Gilang segera menyusul lari, namun mereka berdua kalah cepat dengan Gilang. Akhirnya Gilang berhasil memenangkan lomba lari. Dia meraih juara pertama sedangakan dua peserta yang berhasil menyusulnya mendapatkan juara kedua dan ketiga. Pak Heru dan Tama berlari menghampiri Gilang, Tama gembira karena Gilang berhasil memenangkan lomba lari. Dia gembira meskipun dia terlihat begitu kelelahan.
Gilang bersyukur kepada Allah akahirnya dia bisa mengikuti pertandingan lari dengan membawa hasil yang memuaskan. Dia juga berterimakasih kepada Pak Heru, teman-temannya dan juga kedua orang tuanya karena berkat doa dan dukunganmereka Gilang bisa meraih impiannya menjadi juara pertama lomba lari tingkat Kota. Gilang tidak pernah membayangkan semuanya seperti mimpi, pikirnya dalam hati.
Selesai.
Komentar
Posting Komentar