Cerbung: Sepenggal Kisah Usang-Part II

 Kamis, 14 Juli 2022.


Cerbung: Sepenggal Kisah Usang-Part II

 


Dona terkejut, dia bingung, wajahnya terlihat cemas begitu cemas. Dalam benaknya, perasaannya bercampur aduk. Kabar apa ya yang dibawa Vina? ada apa gerangan?, berbagai pertanyaan muncul dalam hatinya. Sesaat suasana kelas menjadi hening, sepi tanpa suara dan semuanya terdiam.

Vina menarik tangan Dona seraya mengajaknya ke luar kelas. Dona semakin penasaran.

“Vin ada kabar apa? Kamu jangan bikin aku takut?”

“Kamu mau tau aja apa mau tau banget?” Goda Vina.

“Bukan gitu Vin, jangan bikin aku takut.” Timpal Dona.

“Kamu masih inget kak Pandu?”

“Inget, ada apa dengannya?”

“Semalem dia telepon aku, terus dia nanya-nanya semua tentang kamu?”

“Terus kamu jawab apa?”

“Ya aku jawab aja semuanya.”

“Apa aja?”

“Ya semua tentang kamu yang aku tau.”

“Kayaknya kak Pandu naksir kamu deh.”

“Kamu sok tau.”

Why not? aku yakin seribu persen. Buktinya pagi tadi sebelum dia ke kampus dia mampir ke rumah aku, dia nitip salam buat kamu. Aku bisa liat wajahnya begitu kasmaran, kayak orang yang lagi jatuh cinta.”

“Kamu mah kebiasaan sok tau orangnya, kayak paranormal aja.”

“Gimana salamnya? diterima nggak? pasti nanti malem kalo ketemu pas rapat dia pasti tanya “gimana salamnya? udah disampaiin belum?”, terus aku mesti jawab apa?”

“Jawab aja waalaikumsalam. Gimana? Udah lega?”

“Oke, salam balik nggak nih?”

“Yaudah iya deh biar kamu seneng.”

“Awas lho kalo kamu heboh apalagi sampe ada yang tau. Kamu bisa kan jaga rahasia ini?”

“Oke bestiku.”

Lalu keduanya masuk ke kelas karena melihat Bu Sonya berjalan menuju kelas mereka. Bu Sonya adalah guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Beliau dikenal dengan guru yang disiplin, tegas dan tidak suka dengan kegaduhan. Begitu beliau masuk, semua siswa langsung duduk rapi dan tidak ada yang berani berbicara di dalam kelas. Dengan begitu pelajaran bisa berjalan efektif dan kondusif.

Bel tanda istirahat berbunyi. Bu Sonya keluar kelas menuju ke ruang guru. Semua siswa berhamburan keluar menuju kantin sekolah untuk berburu makanan, begitupun dengan Dona dan Vina.

Begitu sampai di kantin, mereka langsung memesan menu favorit mereka berdua. Seperti biasa siomay goreng, roti bakar dan jus buah.

“Menurut kamu, kak Pandu itu orangnya gimana?”

Tiba-tiba Vina membuka obrolan dengan pertanyaan yang cukup membuat Dona bingung.

“Kamu dari tadi bahasnya kak Pandu terus deh, jangan-jangan kamu naksir ya sama dia? bicaramu dari tadi ngelantur soalnya.”

“Dia itu udah ganteng, smart, tajir, pokoknya idaman deh?” puji Vina.

“Udah udah, makan dulu, tadi bilangnya laper tapi kok malah ngobrol terus?”

“Iya deh iya...”

“Oiya Vin, denger-denger ada café bagus yang baru buka. Gimana kalo kita coba dateng ke sana?”

“Oke, nanti aku kabarin lagi ya.”

Pelajaran terakhir selesai. Dona dan Vina tidak langsung pulang, mereka akan ke Perpustakaan Kota untuk mencari bahan tugas Bahasa Indonesia.

Keesokan harinya saat berjalan menuju ke gerbang sekolah, Dona melihat kak Pandu lewat di depan sekolahnya. Kak Pandu tersenyum padanya. Dona pura-pura tidak melihatnya. Dia bergegas lari masuk ke dalam sekolah dengan buru-buru sampai tidak memperhatikan Vina yang berteriak memanggilnya.

“Dona, sini?”

“Tumben kamu udah sampe di sekolah duluan.”

Vina menarik tangan Dona sambil menyodorkan sebuah bingkisan.

“Ini apa Vin? ulang tahunku kan masih lama? kok udah kasih kado aja. Aku kan jadi terharu.”

“Coba deh kamu buka bingkisannya, aku mau liat apa isinya.”

Karena keduanya sama-sama penasaran, akhirnya Dona membukanya dan keduanya dibuat terkejut oleh isi bingkisan itu.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Usaha

Rumah Kedua

CINTA BERSEMI DI KKN