Cerbung: Sepenggal Kisah Usang-Part IV

Sabtu, 16 Juli 2022.

Cerbung: Sepenggal Kisah Usang-Part IV

 

Sejenak Dona terdiam, dia sedang berusaha untuk memahami setiap kata yang diucapkan oleh Pandu. Dona teringat kembali akan pesan orang tuanya dan apa saja impiannya selama masih sekolah.

“Maaf kak, Dona nggak bermaksud buat nyakitin hati kak Pandu, tapi Dona nggak bisa balas perasaan kak Pandu.”

“Apa ini karena kamu udah punya pacar?”

“Bukan kak, aku belum punya pacar. Tapi karena orang tua Dona melarang anak-anaknya untuk pacaran, apalagi kalo masih sekolah. Dona juga mau fokus ke sekolah dulu kak.

“Oh begitu, tapi kita masih bisa berteman kan?”

“Ya tentu aja boleh.” Jawab Dona dengan perasaan lega.

Tak terasa sudah satu jam mereka berempat bermain di pantai. Mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Di perjalanan pulang, Vina menanyakan sesuatu pada Dona.

“Oiya Dona, tadi kak Pandu nembak kamu ya?”

“Enggak, kamu ngomong apa si. Kita cuma ngobrol biasa aja.”

“Masak? aku nggak percaya tuh?”

“Kamu mau masak apa Vin? emang kamu bisa masak?” canda Dona mengalihkan pembicaraan.

“Kamu kok jadi bercanda gitu sih? kamu jangan ngalihin pembicaraan dong, aku serius nanya ke kamu?”

“haha, ya terserah kamu mau percaya atau enggak. Kamu mah sukanya kepo.”

Keduanya tertawa bersama. Karena masih penasaran tentang percakapan Dona dengan Pandu tadi siang, Vina menelpon Pandu untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya.

“Assalamualaikum kak, gimana hubungan kakak sama Dona? kayaknya tadi kalian berdua ngobrol serius banget, kalian udah jadian?” selidik Vina.

“Waalaikumsalam, kamu kenapa si? telpon tiba-tiba terus langsung nanya kaya gitu?”

“Udah kak jawab aja, kalian ngobrolin apa tadi?”

“Nggak ngobrolin apa-apa Vin, cuman ngobrol biasa aja.”

“Aku tau kalo kak Pandu itu naksir Dona, iya kan? kalo kak Pandu suka sama Dona, tembak aja langsung. Kalo kelamaan keburu Dona diambil orang.”

“Sok tau kamu Vin.”

Keesokan harinya Vina datang ke sekolah lebih awal. Vina masih merasa kalau Dona dan Pandu menutupi sesuatu darinya. Karena belum sepenuhnya percaya, lagi-lagi Vina memberikan pertanyaan untuk Dona.

“Dona, aku ngerasa kalo kamu nyembunyiin sesuatu dari aku, kamu jujur nggak?”

“Kamu nggak percaya sama aku Vin?”

“Iya deh iya, aku percaya.”

Usai pulang sekolah, Dona dan Vina langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Karena beda arah, mereka pulang sendiri-sendiri menggunakan sepeda motor mereka. Saat perjalanan pulang, Dona bertemu dengan Pandu. Dari depan, Pandu melambaikan tangannya ke arah Dona.

“Dona, sebentar. Ada yang mau aku obrolin.” Teriak pandu dari arah depan.

Dona menghentikan laju motor dan mematikan mesin motornya. Dona meng-iyakan ajakan Pandu untuk mengobrol dengannya.

“Dona, sebelumnya aku minta maaf ya sama kamu?”

“Minta maaf soal apa kak?”

“Soal semua perkataanku ke kamu waktu itu.”

“Kak Pandu nggak ada salah apa-apa kok.”

“Tapi aku ngerasa semenjak hari itu, sikap kamu ke aku jadi beda.”

“Beda gimana maksud kakak?”

“Ya kita jadi sama-sama canggung. Aku cuman mau kita bisa berteman seperti dulu. Bisa kan?”

Pandu merasakan ada yang aneh dengan perubahan sikap Dona padanya setelah obrolan mereka di pantai waktu itu. Sikap Dona yang pendiam akhir-akhir ini membuat dirinya semakin bingung. Pandu hanya ingin hubungan mereka bisa kembali seperti dulu dan menjadi teman baik.

“Maaf kak kalo menurut kakak sikap aku akhir-akhir ini aneh ke kakak. Aku nggak ada maksud apa-apa kak. Aku cuman…”

Perkataan Dona terhenti ketika Dona mendapatkan sebuah pesan masuk dari ibunya untuk segera pulang ke rumah.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Usaha

Rumah Kedua

CINTA BERSEMI DI KKN