Komitmen
Senin, 4 Juli 2022.
Komitmen
Malam yang terang karena pancaran sinar rembulan tak membuat hati
seorang gadis melankolis ikut merasakan kebahagiaan. Malam itu Disa sedang
dirundung kegelisahan hati karena mendapat kabar dari kekasihnya.
“Sayang aku dapat kesempatan melanjutkan S2 di luar negeri dengan
jalur beasiswa dari kampus.”
Itulah bunyi pesan singkat yang Disa dapat tadi siang saat dia
berada di kantornya. Hampir setiap Minggu waktunya dihabiskan di tempat kerja. Pertemuan
Disa dengan Ryan untuk sekedar quality time bersamapun jarang mereka
agendakan.
Sehari-hari Ryan sibuk mengajar di kampusnya dulu. Sebagai Dosen
yang berkompeten dan menjadi idola di kampusnya, Ryan memperoleh kesempatan
untuk melanjutkan Pendidikan S2 nya dengan beasiswa. Pesan singkat tersebut,
membuat Disa tidak bisa fokus dengan pekerjaannya membuat desain gaun pengantin
untuk client. Terus saja Disa memikirkan pesan dari kekasihnya hingga
dia lupa untuk membalas pesan kekasihnya yang menanyakan kabarnya.
Ryan khawatir dengan keadaan kekasihnya itu karena sejak dia
mengirim pesan soal beasiswa, Disa hanya membaca pesan tanpa membalasnya. Untuk
kesekian kalinya Ryan kembali mengirimkan pesan pada Disa.
“Sayang besok kita makan siang di cafe biasa ya, ada yang mau aku
obrolin sama kamu.”
Tak ingin membuat kekasihnya khawatir, Disa membalas pesan masuk
tersebut dan mengiyakan ajakan kekasihnya untuk makan siang bersama.
Disa dan Ryan tiba di cafe biasa mereka bertemu. Ryan memandangi wajah
kekasihnya yang terlihat kurang tidur.
“Sayang, kamu baik-baik aja kan? kamu keliatan seperti kurang
tidur, apa banyak kerjaan di kantor?
“Iya, kerjaan di kantor banyak akhir-akhir ini jadi waktu tidur aku
agak berantakan.”
“Kamu jaga kesehatan ya, aku nggak mau kamu sakit. Apalagi kalau
nanti aku udah ke Inggris buat lanjut Pendidikan S2 disana. Aku nggak bisa ketemu
kamu setiap minggu.”
“Kamu jadi ambil beasiswa itu?”
“Iya karena ini kesempatan bagus buat aku, buat bekal aku ngajar
disini juga. Kamu nggak keberatan kan?”
“Aku selalu dukung apapun keputusan kamu, termasuk untuk ambil
beasiswa itu. Tapi entah kenapa aku takut kalau nanti kita jauh hubungan kita
juga bisa jauh”
“Kok kamu bilangnya kaya gitu. Kita kan udah sama-sama komitmen
buat jalanin hubungan ini sampai nanti kita menikah”
“Iya aku percaya kalo kamu bisa jaga komitmen kita bareng-bareng”
“Sebelum aku berangkat ke Inggris, kamu mau nggak kalau kita
tunangan dulu sebagai bukti kalau aku bener-bener mau serius sama kamu”
“Iya aku mau, nanti kita ijin ke mamah papah aku ya”
Keesokan harinya Ryan datang ke rumah Disa untuk menemui kedua
orang tuanya dan membahas pertunangan mereka berdua. Satu minggu sebelum keberangkatakan
Ryan ke Inggris, pertunangan Disa dan Ryan dilaksanakan.
Kisah dalm tulisannya sistematis ya, alurnya apik, semoga mrka brjodoh. Byk jg org² d luar sana py crt yg sm kyk gni smoga mrk bc dan ttp optimis. Keren
BalasHapus