Pengalaman Pertama

Rabu, 20 Juli 2022.

Pengalaman Pertama

 

Siang itu sepulang dari mengajar di bimbingan belajar, Sisil terlihat letih. Maklum cuaca hari itu kurang bersahabat. Matahari sangat terik, ditambah lagi karena jarak mengajar di bimbingan belajar dengan rumahnya cukup jauh. Kira-kira membutuhkan waktu 35 menit perjalanan menggunakan sepeda motor.

Sisil duduk dan kakinya diluruskan sambil sesekali dipijat-pijat, mungkin kakinya penat. Setiap pagi jam 06.00 dia harus sudah berangkat ke sekolah untuk mengajar BTQ di salah satu Sekolah Dasar Negeri. Setelah mengajar, dia langsung pulang ke rumahnya. Dulu waktu Sisil dan keluarganya masih tinggal di rumah lama, jaraknya sangat dekat dengan sekolah tempat dia mengajar. Namun karena sekarang Sisil dan keluarganya sudah pindah, jadi jarak dari rumah ke sekolah tempat dia mengajar cukup jauh.

Terkadang sepulang dari mengajar di bimbingan belajar, Sisil diminta oleh ibunya untuk menjemput adiknya pulang sekolah. Kebetulan karena tempat bimbingan belajar dengan sekolah adiknya satu arah jalan pulang. Begitulah rutinitas Sisil setiap harinya.

Setelah rasa lelahnya sedikit hilang, Sisil melihat-lihat ponselnya. Tiba-tiba dia mendapatkan sebuah pesan masuk dari Kepala Sekolah tempat Sisil dulu pernah melamar kerja. Ibu Kepala Sekolah meminta sisil untuk datang ke sekolah.

Keesokan harinya Sisil datang ke sekolah untuk menemui Ibu Kepala Sekolah. Ibu Kepala Sekolah menjelaskan bahwa ada salah satu guru yang sedang cuti mengajar karena akan segera melahirkan. Beliau menawarkan pada Sisil untuk menjadi guru pengganti sementara selama guru tersebut cuti melahirkan. Sisil menerima tawaran tersebut, ya sekaligus untuk melatih keberanian dan kepercayaan pada dirinya. Ibu Kepala Sekolah mengantar Sisil menuju ke ruang kelas 2. Disana anak-anak sudah menunggu guru yang akan masuk mengajar di kelasnya.

“Assalamualaikum anak-anak.” Ucap Ibu Kepala Sekolah.

“Waalaikumsalam bu guru.” Jawab serentak seluruh siswa yang ada di kelas.

“Anak-anak, Ibu kesini bersama guru baru. Namanya bu Sisil, selama bu Aisyah izin tidak masuk, bu Sisil akan menjadi guru sementara untuk kalian.”

“Hore.., ada bu guru baru.” Teriak anak-anak sambil bersorak kegirangan.

Setelah Ibu Kepala Sekolah meninggalkan ruang kelas 2, Sisil mengajak anak-anak untuk memperkenalkan dirinya satu persatu. Hari itu anak-anak belajar Tematik. Sisil tertawa melihat tingkah lucu anak didik barunya saat memperkenalkan diri mereka.

Pada saat pelajaran membaca, perwakilan dari anak-anak diminta untuk membaca di depan teman-temannya. Tiba-tiba ada yang menangis, dia adalah Tisa. Kata guru-guru disana, Tisa memang sering menangis di kelas. Sisil semakin bingung ketika melihat Tisa menangis sambil menggendong tas ranselnya dan menuju ke luar kelas. Sisil mencoba untuk mendekati dan mengajak Tisa masuk ke kelas namun Tisa tetap menolaknya. Itulah pengalaman mengajar Sisil di hari pertama.

Hari berikutnya, jam pertama adalah mata pelajaran Olahraga. Anak-anak sudah siap dengan seragamnya.

“Hari ini kita akan olahraga apa anak-anak?” tanya Sisil.

“Bu, olaharagnya jalan-jalan aja bu?” jawab Raka ketua kelas 2.

“Baiklah anak-anak, sekarang kita bersiap-siap untuk baris terlebih dahulu lalu berdoa.”

Anak-anak berjalan secara beriringan menuju ke jalan di sekitar dekat sekolah. Suasana jalan cukup ramai kendaraan. Sisil berjalan di samping kanan anak-anak untuk mengawasi mereka. Sisil tersenyum setiap kali mendengar gurauan dan celotehan anak-anak didiknya.

“Mereka benar-benar lucu”, gumam Sisil dalam hatinya.

Setelah berolahraga, semuanya kembali ke sekolah. Sesampainya di sekolah bel berbunyi, itu pertanda jam istirahat telah tiba. Anak-anak langsung berhamburan menuju ke depan sekolah. Para pedagang sudah bersiap-siap untuk melayani anak-anak yang akan membeli dagangannya.

Setelah mencuci tangan, Sisil menuju ke ruang perpustakaan yang menjadi ruangannya selama dia menjadi guru pengganti disini. Sisil meraih tas kecilnya dan berjalan menuju ke masjid dekat sekolah. Sisil tak menyadari jika ada yang mengikutinya dari belakang. Saat menoleh, ternyata anak-anak kelas 2 mengikutinya dari belakang. Ada sekitar 10 anak yang mengikutinya.

“Bu, mau kemana? boleh kami ikut?” tanya salah satu anak dari mereka.

“Ibu mau ke masjid, ayok kalau mau ikut. Tapi kalau di masjid tidak boleh berisik.” Jawab Sisil.

“Oke bu.” Jawab anak-anak serentak.

Selesai sholat Dhuha, Sisil keluar. Dia memanggil anak-anak memastikan kalau tidak ada yang tertinggal.

“Anak-anak ayo kita kembali ke sekolah, bentar lagi masuk jam pelajaran.” Ucap Sisil.

“Bu, besok kita boleh ikut lagi nggak?” tanya Safira.

“Boleh, tapi jangan lupa kalian bawa mukena ya dari rumah.”

Anak-anak terlihat gembira, Sisil tersenyum melihatnya.

Hari berikutnya seperti biasa di jam istirahat pertama, Sisil pergi menuju ke masjid. Kali ini anak-anak sudah menunggu di depan pintu gerbang dengan membawa perlengkapan sholat. Sisil tersenyum bahagia melihat antusias anak-anak.

Tibanya di masjid ternyata sudah ada Pak Hasan yang juga akan melaksanakan sholat. Setelah selesai sholat, tiba-tiba tedengar suara teriakan. Suara itu berasal dari toilet laki-laki. Sisil, Pak Hasan dan anak-anak langsung berlari menuju ke sumber suara teriakan itu. Ternyata Rasyid terkunci di toilet karena kunci toiletnya rusak. Untungnya ada Pak Hasan sehingga pintu toiletnya bisa terbuka. Sisil segera mengajak anak-anak kembali ke sekolah. Itu adalah pengalaman pertama mengajar yang tidak bisa dilupakan oleh Sisil ketika dia menjadi guru pengganti di salah satu Sekolah Dasar Swasta.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Usaha

Rumah Kedua

CINTA BERSEMI DI KKN