Pertemuan Tak Terduga

 Senin, 25 Juli 2022.

Pertemuan Tak Terduga

Sore itu langit terlihat muram, awan tebal menghiasi angkasa, angin berhembus kencang disertai suara petir yang bersahutan. Semakin lama gerimis berubah menjadi curahan hujan yang semakin deras. Memang tak bisa dipungkiri ini mungkin sudah masuk musim penghujam. Kita harus selalu waspada dan hati-hati serta jangan lupa untuk selalu membawa jas hujan karena cuaca sekarang bisa dibilang suka berubah-ubah. Riri terlihat buru-buru keluar dari mini market selesai belanja pesanan ibunya. Setelah selesai menaruh belanjaan, ia memakai jas hujan dan memakai helmnya sebagai pengaman. Dia menyalakan motornya dan melaju ke jalan raya menuju arah rumah. Saat lagi fokus naik motor, maklum karena hujan jadi harus hati-hati. Di perempatan saat motor Riri hendak berbelok ke arah kanan, tiba-tiba ada seorang pemuda mendekati Riri.

“Maaf Mbak, bisa minta tolong?” Tanya Pemuda tadi.

“Oh ya bisa, minta tolong apa?” Jawab Riri gagap karena kaget.

“Maaf saya mau tanya, apakah mbak tahu alamat ini?” Jawab Pemuda tadi sambil menunjukkan secarik kertas berisi alamat.

“Jalan Rasamala II Blok C No. 9? Oh ya saya tahu.

“Bisa minta tolong untuk mengantar saya kesana? Tadi saya mau pakai maps tapi sinyalnya susah, jadi saya bingung. Mana saya nggak tahu daerah sini, ini baru pertama kali saya datang ke Kota ini. Oh ya sebelumnya kenalkan nama saya Dimas, saya datang dari Surabaya.”

“Maaf ini sudah menjelang Maghrib, anda pasti lelah baru menempuh perjalanan jauh, sudikah anda mampir untuk minum barang seteguk sambil istirahat sejenak?” Kata Riri kemudian.

Riri menyalakan motornya. Dimas mengikutinya naik mobil dari belakang. Sekitar lima belas menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Riri. Ibu Riri duduk di ruang tamu, dia sedang menunggui Riri pulang. Ibu khawatir karena Riri pulang terlambat. Riri mematikan motornya di depan rumah. Lalu ia mempersilahkan Dimas untuk masuk ke rumah.

“Silahkan masuk.” Kata Riri pada Dimas.

Riri dan Dimas masuk, perasaan Ibu jadi lega.

“Akhirnya kamu pulang, dari tadi Ibu cemas menunggu kamu.”

“Maaf Bu, tadi Riri ketemu Dimas di perempatan jalan raya.”

Riri memperkenalkan Dimas pada Ibunya dan menceritakan tentang keperluan Dimas datang ke Kota ini. Riri masuk ke dapur dan kembali ke depan sambil membawa segelas teh hangat dan sepiring cemilan.

“Silahkan dinikmati Dimas, maaf suguhan ala kadarnya maklum di kampung.”

“Terima kasih, jadi merepotkan.” Jawab Dimas malu.

Mereka bertiga tertawa bersama.

Hujan reda ketika Dimas selesai sholat dari mushala, dekat rumah Riri.

Riri dan Ibunya juga sudah selesai sholat. Mereka bertiga duduk di ruang tamu kembali.

“Oh ya nak Dimas, kalau mau cari alamat kalian jangan hanya berdua saja.”

“Tentu saja bu. Maaf kalau boleh, Ibu ikut aja ya jadi kita pergi bertiga bu.” Pinta Dimas memelas.

“Baiklah.” Jawab Ibu Riri sambil tersenyum.

Riri membawa motornya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Ketiganya masuk ke mobil sedan warna hitam melaju menyusuri jalanan yang bersih karena baru diguyur hujan. Angin berhembus terasa dingin meski demikian lalu lintas tetap ramai dan sesekali macet. Terdengar bising di telinga maps menunjukkan arah ke selatan melewati jalur pantura.

Alhamdulillah maps menunjukkan bahwa tempat yang kita tuju semakin dekat. Kita sempat salah jalan, untungnya ada warga sekitar yang membantu. Akhirnya kita sampai di sebuah rumah berwarna hijau muda dan di depannya banyak ditumbuhi bunga-bunga warna-warni.

“Sungguh asri dan membuat betah.” Gumam Riri dalam hati.

Ketiganya turun dan berjalan ke arah pintu.

“Tok tok tok …., Assalamualaikum?” Dimas mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam…., “ Terdengar jawaban dari dalam rumah.

Seorang wanita paruh baya keluar. Dia heran.

“Siapa ya? Oh ya silahkan masuk. Saya sampai lupa.”

Mereka bertiga masuk dan duduk di kursi tamu.

“Maaf Bu, pastinya Ibu kaget atas kedatangan kami yang tiba-tiba.”

Dimas mengeluarkan sebuah kotak kecil dan diberikannya pada Ibu paruh baya tadi.

Seketika Ibu paruh baya itu membuka kotak kecil itu dan betapa dia terkejut.

“Jadi kau anakku?” Ucap Ibu paruh baya tadi sambil berdiri menghampiri Dimas yang juga terkejut. Dimas pun berdiri mengambil pelukan hangat Ibu kandungnya yang ia cari selama ini.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Usaha

Rumah Kedua

CINTA BERSEMI DI KKN