Teror

Sabtu, 23 Juli 2022.

Teror

 

Tempat yang paling nyaman untuk kita tinggali adalah rumah. Tapi bukan dalam arti rumah yang mewah dan penuh dengan perabot mahal ataupun lux. Tapi rumah di sini yang kita maksud adalah rumah yang walaupun sederhana tetapi berada di lingkungan yang nyaman dan saling menghargai satu sama lain.

Lain halnya yang dialami dengan Kinanti dan keluarganya. Mereka tinggal di sebuah desa yang penghuninya terdiri dari para pendatang dari pelosok daerah, karena sebelumnya desa itu merupakan area persawahan. Oleh pemiliknya dijual karena daerah itu sering kesulitan air, jadi pada saat ditanami padi pemiliknya sering mengalami kerugian karena gagal panen. Itulah sebabnya dijual untuk permukiman.

Kinanti dan ketiga saudaranya lahir dan besar di sana. Kinanti berasal dari keluarga sederhana. Tetapi kedua orang tuanya sangat mengutamakan Pendidikan untuk anak-anaknya. Setelah Kinanti dan ketiga saudaranya menginjak remaja, banyak konflik terjadi. Itu karena faktor dari lingkungan yaitu warga sekitar tempat tinggalnya. Kinanti dan keluarganya selalu menjadi bahan gunjingan orang-orang. Padahal mereka jarang keluar rumah apalagi berkumpul dengan warga sekitar rumahnya. Namun masalah selalu saja ada dalam keluarga Kinanti. Kebanyakan warga sekitar tempat tinggalnya terutama para ibu suka ngumpul-ngumpul di depan rumah dan membicarakan aib orang lain. Setiap hari mereka seakan tak pernah kehabisan topik obrolan. Apalagi kalau orang yang sedang mereka gosipin lewat, mereka menatapnya dengan tatapan sinis.

Kinanti dan ketiga saudaranya sekolah di tempat yang berbeda dengan tetangga-tetangganya. Saat Kinanti dan kakaknya melanjutkan kuliah itupun katanya “Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Sekarang aja banyak Sarjana pada nganggur?”. Mereka mengatakan hal itu dengan suara yang keras sambil tertawa. Dan bukan hanya sekali itu saja tapi lebih dari sekali.

Bertahun-tahun Kinanti dan keluarganya diam saja. Mereka tetap bertahan karena di sini tempat tinggal mereka. Mereka diam bukan karena takut, karena pada prinsipnya mereka tidak ingin meladeni tetangga-tetangganya. Anehnya di depan keluarga Kinanti, mereka berpura-pura baik, peduli padahal di belakang mereka bergosip tentang keluarga Kinanti. Tetangganya suka ikut campur urusan keluarga Kinanti mulai dari anak-anaknya sampai orang tuanya.

Saat bulan Puasa, Ibu Kinanti sedang menjahit kira-kira tengah malam tiba-tiba “Brok…!” Ibu Kinanti kaget dan meminta Bapak untuk memastikan suara apa itu?. Ketika pintu dibuka ternyata ada dua anak laki-laki naik sepeda melaju dengan kencang sambil melempar sesuatu dan ternayata itu adalah “ketela boleng” sebesar kepalan tangan orang dewasa. Orang tua Kinanti sebenarnya tahu siapa pelakunya, tetapi mereka tetap diam.

Berselang beberapa hari kemudian, anak itu berulang lagi. Kali ini aksi kedua berlanjut dengan modus yang berbeda. Mereka melempar petasan di pintu samping rumah. Kinanti dan keluarganya terkejut, mereka lari ke luar rumah. Bukan hanya sekali, situasi ini terus berlanjut membuat keluarga Kinanti geram. Ditambah lagi tetangga-tetangga dekat rumahnya tetap saja mengucapkan sindiran-sindiran pedas.

Sampai pada akhirnya datang kembali bulan Puasa. Kali ini membuat keluarga KInanti semakin geram. Waktu itu Kinanti dan keluarganya pulang dari acara tahlilan mengirim do’a untuk kakeknya yang sudah meninggal. Baru sejenak tiba di rumah, tiba-tiba “door…!”, sontak keluarga Kinanti sangat terkejut mendengarnya. Dan lagi-lagi aksi ini dilakukan oleh anak-anak yang sama.

Sejak kejadian teror ketela dan petasan di bulan Ramadhan tahun lali, Kinanti dan keluarganya sepakat untuk pindah rumah. Alhamdulillah akhirnya do’a-do’a mereka terkabulkan. Rumah baru mereka sudah jadi dan mereka tinggal di rumah yang baru dengan suasana baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Usaha

Rumah Kedua

CINTA BERSEMI DI KKN